Hei Cinta Pertama, Aku rindu!

0
148
ayah dan bayi kecilnya
Ilustrasi sang ayah dan bayi kecilnya

Pertengahan malam ini aku terbangun. Sedikit mengernyit saat mendengar suara petikan gitar.

‘Orang gila mana yang main gitar malam-malam’ begitulah batinku.

Memutuskan untuk bangun dan berjalan keluar kamar, tak ayal senyumku terbit saat melihatmu duduk di sofa navy itu sembari memainkan gitar.

‘Kaulah Segalanya’ itu yang terfikirkan dalam benakku saat mendengar melodi awal yang tengah kau mainkan.

Lagu kesukaanmu saat kau pertama kali mendekapku. Setiap malam tak pernah absen kau nyanyikan lagu itu untuk penghantar tidurku.

Aku menghampirimu, duduk disebelahmu dan menyandarkan kepala ini di bahu tegapmu.
Menatap sekeliling sembari terus meresapi alunan melodi yang kau mainkan.

Aku baru sadar ini tempat kenangan kita, berdua menjalani hidup, tertawa – menangis bersama.

“Bagaimana bisa? ” Tanyaku padamu.
Kau tersenyum dan menghentikan permainanmu, meletakkan gitar kesayanganmu begitu saja.

“Hei bayi merah 1,5 kilo. Apa kabar? ” Bukannya menjawab pertanyaanku kau justru malah balik bertanya.

“Baik, akan selalu baik seperti yang kamu mau. ” Jawabku tanpa menatapnya.

“Huft. Waktu begitu cepat bukan? Tak kusangka bayi merah 1,5 kilo ini bisa tumbuh sebesar dirimu sekarang. ” Ujarmu.

Aku tersenyum. Mengingat kembali masa itu kala kau menceritakan padaku saat pertama kali kita bertemu.

Di sebuah rumah sakit kecil, kau menangis di depan ruangan itu, menangis berharap agar tak ada kabar buruk yang kau terima.

Sampai akhirnya dokter memanggilmu dan memberitahumu kabar baik, apa yang kau tunggu telah selamat. Kau menangis terharu tanpa mempedulikan begitu banyak pasang mata yang menatap haru padamu. Kau menggendongku dengan penuh kehati-hatian.
Katamu dalam pelukanmu aku menjadi begitu mungil, kecil dan rapuh. Aku prematur dan beratku hanyalah 1,5 kg. Tapi itupun sudah sangat membuatmu bersyukur.

Kau bilang aku adalah bidadari termungil yang Tuhan titipkan padamu, tapi bolehkah aku mengatakan bahwa kau juga seorang malaikat?

Malaikat tak bersayap yang membuatku bertahan hidup sampai saat ini.

Kau yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan memori masa lalu itu.

“Hei Papa.” Panggilku

“Ya bayi merahku.” Jawabmu.

“Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Dulu, sekarang, nanti dan esok akan selalu begitu.” Ujarku sembari menggenggam tanganmu.

“Doakan aku kalau begitu.” Jawabmu sembari mengelus rambutku dan ku dengar kau melantunkan lagi lagu itu dan entah mengapa aku merasakan kantuk melandaku.

“Tidurlah yang nyenyak Nak, Papa selalu ada di hatimu.”

Kaulah segalanya untukku
Kaulah curahan hati ini
Tak mungkinku melupakanmu
Tiada lagi yang kuharap
Hanya kau seorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here