Special Report: Pro, Kontra dan Kebingungan terkait Aturan Busana Adat

0
2027
Mahasiswa sebagian telah kuliah dengan menggunakan busana adat

Denpasar — Hari pertama penerapan aturan busana adat, Kamis 11 Oktober 2018, menuai berbagai reaksi di kalangan warga STIKI Indonesia. Namun, sejak sehari sebelumnya pun berbagai reaksi dan pendapat telah diterima oleh Redaksi Stikizen melalui media sosial maupun secara langsung.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh StikiZen™ (@stikizen) pada

Di Instagram Stikizen pada Rabu(10/10) tim Redaksi pertama kali menggunggah artikel terkait Instruksi Gubernur nomor 2331 tahun 2018 tentang aturan berbusana adat Bali yang akan diterapkan keesokan harinya (11/10). Respon pun bermunculan di kalangan mahasiswa. Salah satu anggota Redaksi Stikizen bernama Marco yang juga merupakan bendahara Jurnalistik dan Pers STIKI Indonesia mengaku mendapat belasan telepon dari sesama mahasiswa terkait posting di Instagram tersebut. Selain Marco, anggota Jurnalistik lainnya bernama Cung Chin juga mengalami hal yang sama. Apink, sapaan akrab Cung Chin, juga mengaku mendapat banyak pertanyaan terkait kebenaran kabar yang diunggah oleh tim Redaksi Stikizen tersebut.

Seorang netijen dengan ID arwyn_j di Instagram menulis:

“Mohon maaf,mau bertanya.untuk peserta didik yang berasal dari luar Bali,apakah mengenakan pakaian adat Bali juga pada hari2 tersebut?”

Begitu pula netijen lain dengan ID ubiii10 menulis:

“Kebijakan yang sangat bagus, tp bagaimana dengan yg beragama muslim?”

Namun ada juga netijen yang mengaku setuju dengan hal tersebut. Contohnya adalah komentar dari netijen dengan ID leongpranatha:

“Kebijakan yang sangat apik sekali. Mengingat bahwa kita sbg org Bali harus bangga mengenakan pakaian adat yang sudah menjadi identitas masyarakat Bali”

Pendapat yang sama juga diungkapkan netijen dedywirawan7:

“Sy setuju karena itu juga jadi dayatarik tersendiri dari bali karrna yg saya tau baru dibali yg mewajibkan memakai busana adat selain hari ke agamaan dan itu dilakukan serempak seluruh bali dan itu juga jadi dayatarik wisatawan dan juga utu biss menjadi upaya agar bussna asat si bali tetap lestari”

Kemudian netijen lain juga berkomentar positif, yaitu agungkerlania:

“Kebijakannya sangat menarik dan baik. Mengingat budaya Bali memang sangat perlu utk dilestarikan di jaman ini. Namun ada baiknya jika beritanya tidak semendadak ini diberitahukannya.”

Di sisi lain, ada pula netijen yang kritis menanggapi. Sebut saja seorang netijen dengan ID Kadek Pradnyana berkomentar:

“Kalo sya liat pakaian adat Bali smpek saat ini tidak begitu ‘terancam’ keberadaannya, msih ada busana bali yg lain seperti endek, songket, dll yg sangat perlu diangkat kembali eksistensinya. Klo itu sya yakin pasti banyak yg setuju 😁. Endek dan songket skarang sudah banyak kok yg jual dibawah 100 jdi masih terjangkau.”

Tak berselang lama, muncul pengumuman resmi terkait aturan tersebut. Melalui sebuah posting-an di grup Facebook “HALO STIKI GROUPS” pihak kampus STIKI Indonesia menulis pengumuman resmi tertanda WK (Wakil ketua) III Ibu Welda. Lewat pengumuman tersebut pihak kampus menganjurkan seluruh staff, tenaga pengajar dan mahasiswa untuk melaksanakan Instruksi Gubernur nomor 2331 tahun 2018 mulai Kamis, 11 Oktober 2018, dengan menggunakan busana adat Bali atau adat daerah asal saat kegiatan belajar/mengajar.

Pengumuman di grup Facebook tersebut pun tak luput dari “hujan” komentar. Dari pengamatan tim Redaksi Stikizen, pengguna Facebook yang berkomentar sebagian besar mempertanyakan teknis pelaksanaan aturan seperti busana apa yang dimaksud dan apakah bersifat wajib atau hanya anjuran semata. Beberapa komentar juga muncul berkaitan dengan bagaimana busana yang harus digunakan oleh mahasiwa yang berhijab.

Tim Redaksi Stikizen mencoba menelusuri lebih jauh terkait bagaimana reaksi dan pendapat mahasiswi yang berhijab terkait pengumuman tersebut khususnya mengenai Instruksi Gubernur Bali no 2331 tahun 2018.

Dihubungi melalui chat WhatsApp, mahasiswi muslimah berinisial A.K ini menjelaskan bahwa dia cukup terkejut mengetahui hal tersebut begitupun dengan teman-teman yang terbiasa berbusana musllim.

“Jujur saya cukup kaget begitu mengetahui hal tersebut, apalagi teman-teman muslimah lainnya. Dimana kita semua tahu bahwa berbusana muslim adalah berbusana yang tidak ketat dan tidak menerawang. Sedangkan pakaian adat itu identik berlawanan dari ciri khas busana muslim” terangnya.

Di kesempatan berbeda, mahasiswa muslim berinisial M.R sendiri sedikit kurang setuju dengan penggunaan pakaian adat untuk mahasiswi muslimah terutama yang sudah berhijab.

“Agak kurang setuju sih ya jika penggunaan pakaian adat itu untuk mahasiswi muslimah, apalagi pakaian adatkan cenderung ketat dan sedikit terbuka, nah kalau untuk pakaian adat lelakinya sih masih wajar karena tertutup.” Begitulah jawab M.R saat dihubungi melalui telepon.

Namun demikian, keduanya mengaku tidak lagi merasa khawatir karena mereka tahu bahwa tanah Bali tempatnya saat ini tinggal sangat menjunjung tinggi nilai toleransi. Bahkan A.K juga mencantumkan UUD 1945 pasal 28E ayat 1 yaitu “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.” Dari situlah A.K menjadikannya sebagai pedoman untuk masalah ini.

Keduanya pun sama-sama berpendapat jika penggunaan pakaian adat ini memberikan dampak positif berupa pelestarian budaya yang kini mulai sedikit terkikis, dan A.K menambahkan. “Selain pelestarian budaya juga peraturan ini sih memberikan keuntungan bagi penjahit dan penjual kebaya, karena mereka otomatis banyak mendapat pesanan, terlebih untuk pekerja dan mahasiswa yang asalnya bukan dari Bali.”

Keduanya pun menyatakan bahwa dalam hal ini mereka memilih bersifat netral dan menerima peraturan terbaru tersebut. M.R yang memberikan sarannya untuk semua mahasiswi muslimah di Stiki.

“Kalau memang mau menggunakan pakaian adat sih nggak apa ya, sekarang sih untuk mahasiswi yang sudah berhijab bisa kok membuat kamen yang tidak ketat dengan di padu padankan dengan atasan longgar dan hijab panjang.”

Sedangkan A.K sendiri memberikan saran untuk kampus Stiki dengan harapan bahwa poin empat yang tercantum dalam Instruksi Gubernur tersebut tetap ada yaitu “Penggunaan busana adat Bali dikecualikan bagi pegawai, lembaga pemerintahan, lembaga swasta dan lembaga professional, yang oleh karena tugasnya mengharuskan untuk menggunakan seragam khusus tertentu atau karena alasan keagamaan.”

A.K menambahkan “Dan saya yakin, Stiki memiliki toleransi yang sangat tinggi terhadap keberagaman pendapat, agama dan budaya intern kampus. Salam Semangat menjadi dan memberi.”

Penulis: Edna Widya Perdani aka Raven
Editor: Dalem Ekaputra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here