Cita-cita Paling Tertinggi

0
75

Ada benarnya jika kita diharuskan untuk memiliki cita-cita setinggi-tingginya. Sebatas mana makna kata setinggi-tingginya tersebut tergantung seberapa kita menargetkan pencapainnya. Terkadang tidak masuk akal atau tidak terlalu realistis ketika kita mendeklarasikan cita-cita kita, kadang ada yang memang sangat percaya diri dan yakin sekali akan cita-citanya tersebut pasti tercapai. Bagi mereka yang mencapai cita-citanya akan sangat berbangga karena apa yang menjadi targetnya telah diperoleh, kenikmatan, kepuasan, rasa syukur sudah pasti dirasakan. Berbeda ketika apa yang kita cita-citakan lalu pencapaiannya jauh meleset, sudah pasti ada yang menyesali, menyalahkan, prustasi, stress, ada yang bangkit kembali dengan cita-cita barunya bahkan dalam situasi ekstrim sampai ada yang mengakhiri hidupnya, luar biasa sekali efek cita-cita tidak tercapai.

Sesungguhnya hal itu tergantung komitmen kita pada saat merencanakan, melakukan usaha dan proses, serta berfokus pada tujuan akhir. Ada yang bercita-cita menjadi Dokter misalnya, maka lakukan apa yang harus kita lakukan agar bisa menjadi Dokter pada saatnya nanti, dan ketika telah tercapai maka maknai bahwa itu adalah perjuangan kita yang perlu dipertahankan agar kelak tidak sampai menyakiti proses karena arogansi kita disaat cita-cita terpenuhi. Kemudian kembali ke tahap menentukan cita-cita, motivasi sederhananya saat mengemukakan cita-cita adalah gantungkan cita-citamu setinggi langit, kita artikan dan pahami betul mengapa mesti “setinggi langit”, jawaban sederhananya adalah ketika cita-cita yang paling tinggi tidak tercapai maka masih ada satu tingkat cita-cita dibawahnya yang dapat kita gapai. Itu cita-cita yang bisa kita bilang tinggi dan dapat kita rasakan sendiri pencapaiannya.

Dibalik cita-cita yang tinggi itu ternyata masih ada cita-cita tertinggi yang tentunya amat sangat dan paling tinggi dari cita-cita yang biasa kita inginkan, apa itu? Jawabannya adalah cita-cita apa yang akan kita wariskan kepada keluarga ketika kita berpulang kepangkuan Tuhan Yang Maha Esa. Inilah cita-cita tertinggi manusia sesungguhnya yang tidak hanya dirasakan hasilnya untuk kepuasan diri sendiri saja tetapi setidaknya keluarga yang akan menikmati dan mewarisinya.

Serendah-rendahnya, cita-cita tertinggi manusia adalah memiliki nama baik yang tidak akan menodai generasinya, keluarganya, tetangganya, termasuk bagi semua orang. Bersyukur jika ada yang memiliki cita-cita tertingginya mewariskan karya positif dalam bentuk apapun kepada keluarganya sehingga kelak ada yang dibanggakan walaupun dalam kondisi miskin harta tapi kaya akan karya.
Maka mulai sekarang selain menggantungkan cita-cita setinggi-tingginya, sekecil apapun itu cobalah menggantungkan cita-cita tertinggi kita agar kelak ketika “kontrak” kita didunia tidak lagi diperpanjang oleh-Nya maka ada yang kita tinggalkan dengan baik dan berharga (bukan harta) yang tak terukur nilanya minimal untuk keluarga. Tidak mesti harta dan jangan harta, karena harta akan habis cerita ketika saldo tertera angka nol. Cobalah menggantungkan cita-cita tertinggi, kelak ketika tak tercapai cita-cita tertinggi itu maka setidaknya satu tangga di bawah cita-cita tertinggi tercapai yaitu tidak mewariskan sosok “tercoreng” untuk keluarga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here