Sebatas Rindu tak Berujung

0
234

Namaku Reina, aku ingin menceritakan sepenggal cerita hidupku 5 tahun silam. Lebih tepatnya masa2 SMA ku. Ini dia…

Aku seorang gadis yang saat ini tengah mengenyam pendidikan SMA disalah satu SMA populer di daerah ini. Saat ini aku tengah duduk di tingkat terakhir, yang artinya aku akan segera lulus. Rumahku tak jauh dari sekolah. Aku punya seorng kk laki-laki bernama Bara. Dia 2 tahun lebih tua dariku. Di sekolah aku bukan murid yang populer, walau begitu aku punya beberapa sahabat karib. Nama mereka Nisa dan saras.

Di sekolah aku memiliki perasaan terhadap salah satu murid kelas sebelah. Untungnya dia juga memiliki perasaan yang sama. Kami pun menjalin hubungan semenjak kami duduk di kelas 10. Yang mana artinya kami telah menjalin hubungan selama hampir 2 tahun. Masa masa indah merasakan cinta yang terbalas. Aku melwati hari-hari itu dengan penuh warna dan suka cita. Tapi naas kejadian itu merenggut segalanya. Hidupku, cintaku dan pengorbananku.

Saat itu kami baru saja pulang sekolah. Jam menunjukkan pukul 09:00 pagi. Memang kami pulang lebih cepat, karena menjelang hari ujian nasional. Kami memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman didekat sekolah. Menghabiskan waktu berjam jam disana. Hari sudah mulai gelap, matahari mulai bersembunyi di peraduan. Kami pun memutuskan untuk pulang. Seperti biasa kami akan pulang kerumahku terlebih dahulu. Tapi saat akan beranjak, aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi.

Depan blog didekat rumahku, perasaanku semakin tak menentu. Dia pun seperti enggan melepaskan tanganku yang digenggam sejak tadi. Seolah enggan dilepaskan. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Tanpa sadar kami telah sampai didepan rumahku. Entah apa yg ada dipikannya, tiba-tiba dia merengkuhku kedalam pelukannya. Dia memelukku dengan sangat erat sehingga aku susah bernafas. Setelah melepaskan pelukannya dia kencium keningku dengan lembut dan berkata sampai berjumpa lagi. Kemudian diapun berbalik tanpa kata. Entah mengapa, aku seperti membeku melihat dia pergi. Selama beberapa menit aku terdiam di depan gerbang. Sehingga suara tabrakan yang memekakan telingan menyadarkanku.

Entah karena alam bawah sadarku mengetahui korban tabrakan tersebut, tanpa pikir panjang aku berlari kearah korban yang terhempas jauh dari tempat tabrakan. Kurenkuh tubuh korban yang menggunakan seragam sekolah yang telah berubah warna menjadi merah tersebut. Tanpa komando air mataku mengalir deras dan bibirku menggumamkan sesuatu yang otakku sendiri tidak mengerti. Korban yang berada dipelukanku hanya bisa mengatakan 1 kata sebeluk menghembuskan nafas terakhirnya. Reina, itulah kata terakhir Adzwa. Ya nama pacarku Adzwa. Adzwa yang telah pergi selamanya. Pergi menghadap sang pencipta.

Adzwa aku merindukanmu. Rindu yang tak pernah bisa tersalurkan. Rindu yang hanya bisa dipendam. Rindu yang semakin hari semakin bertambah. Rindu yang seakan menggelembungkan hati karena sudah terlalu penuh. Rindu yang kutahan dari 5 tahun yang lalu sampai sekarang.

Tak pernah sehari pun aku bisa melupakanmu. Karena kau adalah nafasku dan hidupku. I Love You Adzwa. Love you forever. (SN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here