Pertama di Bali, PIK-M STIKI Dan BKKBN Luncurkan Pojok Kependudukan

0
125

Stikizen.id, Denpasar — PIK-M STIKI Indonesia menjadi tuan rumah peluncuran pertama kali program Pojok Kependudukan BKKBN tingkat perguruan tinggi di Bali. Kegiatan berlangsung di Ruang INBIS STIKI Indonesia pada hari Selasa, 13 November 2018, dan turut dihadiri oleh BKKBN Pusat. 

Acara yang diadakan oleh BKKBN bekerjasama dengan Kampus STIKI melalui PIK-M STIKI Indonesia ini dihadiri oleh Kepala Bidang Kependudukan BKKBN Pusat Bapak Drs. Datang Sembiring, MPHR yang datang langsung dari Jakarta. Acara yang membahas mengenai masalah kependudukan ini mendapat sambutan antusias baik dari PIK-M sendiri maupun pihak kampus STIKI yang diwakili oleh Pembantu Ketua III Ibu Welda, pembina PIK-M STIKI Indonesia I Dewa Adi Baskara Joni, M.Kom serta beberapa dosen dan mahasiswa lainnya. Pemaparan mengenai program Pojok Kependudukan disampaikan langsung oleh Bapak Datang Sembiring. Selain itu, dibahas juga berbagai isu kependudukan di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya serta bagaimana upaya-upaya nyata yang dapat diperbuat bersama.

Pojok Kependudukan telah dibentuk sekitar dua tahun yang lalu di beberapa kota di Indonesia salah satunya di kota Padang yang sejauh ini telah cukup sukses dengan berbagai program kependudukannya. Di Bali sendiri, untuk kategori perguruan tinggi, STIKI Indonesia menjadi kampus pertama yang meluncurkan Pojok Kependudukan serta mendapatkan pelatihan dan pembinaan langsung dari BKKBN.

Gede Wahyu Adnyana selaku ketua PIK-M sekaligus Duta GenRe Provinsi Bali menuturkan “Isu kependudukan yang akan fokus kita kerjakan di PIK-M adalah mengenai kepadatan penduduk. Jadi, kepadatan penduduk dapat menyebabkan banyak macam masalah yang akan muncul di kemudian hari. Salah satu contoh nyata adalah persoalan alih fungsi lahan akibat dibangunnya rumah tinggal serta dijadikan kuburan. Hutan yang dulunya luas sekarang menyempit karena banyaknya orang yang lahir yang menghasilkan juga banyaknya orang yang meninggal”.

Wahyu menambahkan selain masalah lahan dan hutan yang menyempit, banyak persoalan lain yang akan muncul akibat kepadatan penduduk seperti kelaparan, kemiskinan serta polusi. “Jadi, kita ingin melalui Pojok Kependudukan ini kita bersama-sama meningkatkan kesadaran akan persoalan kepadatan penduduk serta menggencarkan Generasi Berencana (GenRe) agar anak-anak muda khususnya mahasiswa STIKI dapat lebih merencanakan masa depan dengan menerapkan tiga prinsip yakni menghindari menikah usia dini, seks pra-nikah dan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya)” imbuh Wahyu. Menurutnya, dengan mengacu pada tiga prinsip ini, jika mampu diterapkan dengan baik, maka dengan sendirinya masalah-masalah kependudukan dapat diatasi. (ROS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here