Guru, Masihkah “Digugu” dan “Ditiru” ?

0
226

Hari ini (25/11) diperingati sebagai hari guru nasional sekaligus HUT Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Hari guru adalah hari untuk menunjukkan penghargaan terhadap guru. Namun, di jaman sekarang ini masihkah ada penghargaan dan penghormatan terhadap guru? Memang jaman sudah berubah, tetapi apakah sikap kita harus ikut berubah? Berubah menjadi lebih baik tentu itu hal yang bagus, namun jika berubah menjadi yang lebih buruk? Sungguh sangat disayangkan.

Banyak orang mengatakan, guru zaman dahulu sangat dihormati meskipun belum ada istilah guru profesional. Mungkin ada benarnya. Guru adalah figur yang patut digugu dan ditiru. Guru dianggap sosok yang serba tahu, memiliki kepribadian yang perlu diteladani.

Konon, guru sangat berani menghukum siswa nakal atau bandel di sekolah. Namun guru tidak akan menerima resiko dari hukuman yang diberikan kepada siswa. Jika orangtua mengetahui anaknya bermasalah, berperilaku menyimpang dalam belajar, tidak jarang orang tua ikut memberi ganjaran di rumah, yang mungkin bisa lebih parah dari yang diberikan oleh guru.

Jika dibandingkan dengan zaman sekarang agaknya guru sudah berangsur-angsur kurang dihormati meskipun sudah berpredikat sebagai guru profesional. Berkurangnya penghormatan peserta didik terhadap guru tak lepas dari pergeseran nilai sosial dan budaya di tengah masyarakat.

Jika guru mau memberikan hukuman terhadap siswa, perlu berfikir ulang untuk menerapkannya. Kesalahan memberi hukuman terhadap peserta didik akan berpotensi melanggar hak asasi manusia.

Di sisi lain, siswa berani mengancam guru sebagai pertanda kurang hormatnya siswa pada guru. Ini hanyalah sedikit fakta dari sekian kenyataan yang terjadi dalam proses pendidikan anak di lembaga sekolah.

Guru bukan hanya sekadar menyampaikan informasi sumber belajar yang ada. Lebih dari itu, guru adalah motivator, pembimbing, mediator dan fasilitator dalam proses belajar mengajar. Konsep peran guru di era perkembangan zaman kekinian menjadi tuntutan kurikulum pendidikan yang berlaku. Kurikulum 2013 (sering disebut, Kurtilas) mengalami proses yang cukup panjang sebelum benar-benar diterapkan. Mengapa terjadi demikian?

Alasan yang mungkin adalah bahwa kurikulum pendidikan itu disusun berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan kebudayaan serta kebutuhan akan pembangunan bangsa. Ini pasti butuh waktu yang cukup untuk merancang, mempersiapkan, mengujicobakan sampai penerapan kurikulum tersebut.

Jadi mari kita bantu para guru supaya bisa melahirkan generasi emas penerus bangsa. Tentunya tidak jauh dari harapan kita sebelumnya, yakni harapan akan terus meningkatnya kualitas pendidikan Indonesia. Ini artinya, setiap guru Indonesia harus kembali “merefleksikan diri” tentang “Sudahkah kita berhasil dalam mengemban amanah kita untuk mencerdaskan anak bangsa?” (RIANI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here