Malu Bertanya, Sesat di Kelas

0
12
Ilustrasi murid malu bertanya
Ilustrasi murid malu bertanya

Tirto.id — Sekarang sudah bukan zamannya lagi saat sedang belajar di kelas, dosen berceramah berjam-jam, sementara mahasiswa duduk manis menyerap materi yang disampaikan pengajar.

Saat ini, pendekatan pembelajaran yang fokus terhadap pengajar (teacher centered) sudah mulai diubah dengan pengajaran berbasis siswa atau Student Centered Learning (SCL). Keaktifan siswa atau mahasiswa di dalam kelas menjadi kunci agar proses pembelajaran berbasis SCL dapat berjalan.

Seberapa aktif siswa dan mahasiswa di dalam kelas dapat dilihat dari seberapa sering interaksi yang terbangun, baik antara mahasiswa dan dosen maupun mahasiswa dengan mahasiswa. Dialog setidaknya ditandai aktifnya mahasiswa menjawab pertanyaan yang diberikan pengajar, atau sebaliknya siswa aktif bertanya kepada pengajar.

Seperti dikatakan Rektor UIN Syarief Hidayatullah lewat tulisannya: “SCL dipercaya sangat efektif dalam meningkatkan proses pembelajaran guna meraih hasil belajar mahasiswa secara optimal.”

Menurutnya, SCL sesuai dengan filosofi belajar. “Belajar merupakan kegiatan memperoleh pengetahuan baru dimana semakin banyak pengetahuan didapat mahasiswa, semakin besar peluang mereka untuk terus meningkatkan kualitas sikap dan perilakunya,” katanya.

Sayangnya, melihat beberapa contoh kasus yang ada, budaya bertanya dalam kelas masih belum terbangun di Indonesia. Di Universitas Indonesia misalnya. Dalam blognya, dosen Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Arry Rahmawan menceritakan pengalamannya saat mengajar di kelas program Internasional Universitas Indonesia. Pada kesempatan itu, Arry mencoba menawarkan kepada mahasiswa untuk memberikan pertanyaan kepada dirinya terkait materi yang sedang dibahas.

Namun, Arry mendapati hanya sekitar 10 persen saja mahasiswa Indonesia yang aktif bertanya. “Yang sering mengacungkan tangan (untuk bertanya) adalah mahasiswa asing. Pertanyaan yang muncul seringnya dari mahasiswa asal Jerman dan Perancis,” tulis Arry. Kalaupun ada pertanyaan dari mahasiswa Indonesia, hanya berasal dari orang yang sama.

Kurangnya keaktifan yang terbangun di dalam kelas bukan hanya terjadi di pendidikan tinggi, tapi juga di Sekolah Menengah Atas (SMA).

Menurut penelitian Agni Era dalam “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together Berbantuan Media Interaktif Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Prestasi Belajar Siswa” (2017), sebanyak 60 persen siswa kelas 11 SMA Negeri 1 Tuntang, Semarang, masih menunjukkan aktivitas pembelajaran yang rendah. Hanya 20 persen yang menunjukkan aktivitas tinggi, lalu sebanyak 20 persen menunjukkan aktivitas sedang.

Dari pengamatan yang ia lalukan, mata pelajaran sejarah yang diampunya dianggap sebagai pelajaran hafalan semata. “Guru hanya berceramah di depan kelas,” katanya. Di antara siswa ada yang mengantuk, bermain sendiri, dan suka ribut sendiri.

 

Menurut Agni, kondisi rendahnya aktivitas siswa dalam hal ini siswa SMA Negeri 1 Tuntang berdampak pada rendahnya prestasi belajar. “Hal ini ditunjukkan dari hasil tes prestasi belajar Sejarah pada akhir materi nilai rata-rata yaitu 62,25,” paparnya.

Selain itu di Batam, Guru Geografi SMA Negeri 4 Batam, Tarianthy Pratimi mengatakan, siswa yang kurang aktif bertanya dalam kelas biasanya murid jurusan IPS. “Di SMAN 4 Batam siswa jurusan IPS lebih pasif daripada jurusan IPA,” katanya kepada Tirto.

Menurutnya, rasa keingintahuan anak IPS di sana lebih rendah dibandingkan dengan anak IPA. “Ketika mereka dijelasin materi, mereka sudah nangkep [materi tersebut]. Ya sudah, enggak ada pertanyaan,” kata Tari.

Lantas apa yang membuat sebagian siswa ataupun mahasiswa di Indonesia masih enggan bertanya?

Mengapa Enggan Bertanya?

Mengajukan pertanyaan merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Seperti dijelaskan Jon Rimer dan Madeline Balaam dalam Class Participation and Shyness: Affect and Learning To Program (2011) (pdf) bahwa pada pada perguruan tinggi dalam proses pembelajarannya berusaha memberi siswa kesempatan untuk terlibat secara kritis dengan mata pelajaran melalui diskusi.

“Proses tersebut dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa lebih dalam dan dapat membangun sebuah konstruksi dari pengetahuan yang mereka dapat,” tulisnya.

Namun, penelitian Rimer dan Balaam menunjukkan bahwa banyak siswa yang menghindari keterlibatan dirinya untuk berinteraksi secara pribadi ke dalam proses pembelajaran tersebut. Penelitian tersebut mengungkapkan kurang dari 30 persen siswa yang ikut berinteraksi lebih dari 80 persen dari total kegiatan pada kelas seminar.

Mereka mengungkapkan bahwa siswa yang pendiam tersebut memiliki empat alasan utama untuk tidak berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Alasan tersebut di antaranya: mereka merasa ide-ide yang dimiliki belum dirumuskan dengan benar, siswa merasa tidak cukup memahami materi pelajaran, tidak membaca materi yang ditugaskan, dan siswa merasakan kelasnya terlalu besar. Bahkan, ada beberapa siswa yang merasa takut dimusuhi apabila dianggap terlalu banyak berkontribusi di dalam kelas.

Penelitian tersebut juga mengungkapkan rasa malu dan kepercayaan diri saling berkaitan dan berpengaruh terhadap keaktifan seseorang khususnya ketika sedang berada di dalam kelas untuk belajar. Menurut Rimer dan Balaam, siswa pemalu menghadapi persoalan dalam situasi tertentu, misalnya saat berbicara dengan dosen, atau saat berada dalam diskusi di sebuah acara seminar.

Siswa Pemalu
Infografis hasil survei LSI terhadap Siswa Pemalu

Bagaimana cara mengatasi masalah pembelajaran? Arry Rahmawan mempunyai cara yang telah ia praktikkan di kelasnya dengan bantuan teknologi.

“Modusnya selalu sama: saya tutup kelas, mahasiswa menghampiri saya, bertanya pertanyaan mereka, lalu terjadi diskusi. Saya bertanya kepada mereka, ‘kenapa ga ditanya di kelas?’. Jawaban mereka, karena mereka ga percaya diri, malu sama teman, takut salah, atau duduknya ada di paling belakang jadi khawatir suara tidak dikenal,” tulis Arry.

Oleh karena itu Arry mencoba sebuah teknik agar muridnya jadi lebih berani untuk bertanya dalam kelas. Ia membuat “Question Box” saat sesi kuliah berlangsung.

Kotak pertanyaan tersebut dapat dibuat dengan membuat slide presentasi lewat Google Slide, yakni aplikasi seperti powerpoint pada Microsoft, tapi dibuat terhubung dengan internet. Pada presentasi yang ia buat di Google Slide, Arry mengaktifkan fitur link QnA yang sudah tersedia dari aplikasi tersebut.

“Setelah diaktifkan, maka slide presentasi di kelas yang digunakan akan muncul sebuah link “Question Box” di bagian atas slide,” jelasnya.

Di dalam kelas, Arry menjelaskan bahwa setiap mahasiswa dapat mengirimkan pertanyaannya soal materi yang sedang diajarkan melalui aplikasi tersebut. Pertanyaan itu dapat siswa kirimkan melalui smartphone masing-masing. Nantinya pertanyaan tersebut dapat muncul di slide yang terpampang pada proyektor dalam kelas.

Hasilnya, jumlah pertanyaan dari mahasiswa yang Ia ampu meningkat jauh lebih banyak dibandingkan dengan apabila mahasiswa diminta untuk memberikan pertanyaan secara lisan. “Dalam 2 SKS perkuliahan, tercatat ada sekitar 9 pertanyaan kritis yang masuk, dan 4 pertanyaan yang saya ‘lempar’ ke mahasiswa untuk dijawab sambil saya bantu klarifikasi saat sesi akhir,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di web Tirto.id dengan judul
“Malu Bertanya, Sesat di Kelas”
Penulis: Ramdan Febrian
Editor: Maulida Sri Handayani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here