MENGENAL IP-PRENEUR, HASIL KOLABORASI STIKI INDONESIA DAN CIAYO CORP

0
87

Oleh I Made Marthana Yusa

Bisnis Intellectual Property (IP) yang belum terlalu umum di Indonesia ternyata menjadi pemasukan luar biasa bagi negara Amerika Serikat dan Jepang. Siapa yang tidak mengenal IP asal Amerika seperti Avengers, X-Men, Superman, Batman, Mickey Mouse, Donald Duck dan semua karakter Disney? Atau IP asal Jepang seperti Pokémon, Hello Kitty, Mario, Doraemon, Gundam, Yu-Gi-Oh!, atau One Piece? Total pendapatan Pokémon sendiri saja sejak tahun 1996 hingga saat ini kurang lebih di angka US$ 90 milyar (licensemag.com)

Borton Liew, Co Founder dan CEO (Chief Executive Officer) CIAYO Corp bercita-cita menjadikan seluruh rakyat Indonesia makmur melalui bisnis yang berbasis Intellectual Property (IP). Istilah yang Borton pilih untuk merepresentasikan kemakmuran itu adalah “Tajir Melintir”. Fantastis? Bombastis? Memang kesannya seperti itu, namun data dan fakta yang kita lihat dari pemanfaatan IP di Amerika Serikat dan Jepang, didukung dengan potensi pasar dan kreator IP di Indonesia yang menjanjikan ternyata mendukung cita-cita Borton. Bisnis IP memang menjanjikan asal kita mengetahui seluk beluknya.  Karena itu Borton memiliki program menjalankan workshop mengenai seluk beluk IP ini dengan konsep roadshow. Brand dari workshop-nya adalah ‘The Ultimate God Mode’(TUGM). Tema yang dipilih adalah : IP is the Next Big Thing. Nama unik tersebut terinspirasi dari istilah-istilah ‘cheat’ atau cara pintas pada computer game, yang memberikan keunggulan drastis pada player, agar lebih cepat mencapai tujuan dari suatu game. Borton bermaksud memberikan ilmu, konsep, tips dan arahan agar peserta yang mengikuti workshop mendapatkan “jalan pintas” untuk bisa “tajir melintir” melalui bisnis IP. Roadshow workshop ini dicanangkan akan dilakukan ke lebih dari 35 kota di Indonesia, termasuk Denpasar. Kota-kota yang dipilih sebagai tempat penyelenggaraan workshop ditentukan oleh polling yang dilakukan Borton pada Facebook page –nya. Workshop urung diselengarakan pada kota yang pesertanya minim. Untuk penyelenggaraan TUGM di kota Denpasar dilaksanakan pada hari Minggu-Senin, 20-21 Januari 2019 di kampus STMIK STIKOM (STIKI) INDONESIA. Penentuan venue workshop di Denpasar merujuk pada tingkat kesiapan penyelenggara.

Tim Dosen Konsentrasi Desain Grafis dan Multimedia, Program studi Teknik Informatika yang dikoordinir oleh bapak I Made Marthana Yusa (Pak Made) bertindak sebagai tim panitia utama, didukung oleh 5 orang panitia Artspirasi. Adapun anggota tim panitia utama adalah bapak Putu Satria Udyana Putra, I Nyoman Jayanegara, I Nyoman Anom Fajaraditya, Putu Wirayudi Adhitama, dan I Ketut Setiawan. Tim bidang fasilitas/sarana prasarana dikordinir oleh bapak I Nyoman Agus Suarya Putra beserta Tri Anindia Putra dan Komang Widiantara. Tim Humas dikordinir oleh bapak I Nyoman Widhi Adnyana.

Workshop yang berjalan full days diikuti oleh 41 pendaftar. Termasuk dalam daftar peserta adalah Johan Tri Handoyo, periset software Blender yang juga seorang profesional 2D animator; Gusti Aditya (Kudit) yang merupakan author official LINE webtoon berjudul Mantradeva; Wayan Suma Bagia (Ai Shuma) author official CIAYO dengan webcomic berjudul Bhurloka; Ryoko Muragishi, seorang wibu yang memiliki kemampuan illustrasi handal, dan turut serta juga Pandawana the Dragon, game programmer dari studio Dragon, Bali. Selain para profesional, peserta workshop juga berasal dari kalangan pebisnis, penggiat start up, pecinta komik (anime), pengajar, peneliti, dan mahasiswa. Hari Minggu sebagai hari pertama berjalan dengan sangat baik dan penuh antusiasme. Workshop berjalan hingga pukul 9 malam. Pada workshop hari kedua diisi dengan materi spesifik mengenai IP dan bagaimana strategi menyiptakan IP Skala Global. Antusiasme pada hari kedua meledak melebihi hari pertama. Esensi penting workshop terungkap pada hari kedua. Borton menegaskan pentingnya memperluas cakrawala dan scalling IP ke ranah global (menyentuh pasar 195 negara dunia). Materi ini sangat langka dan penting sekali untuk dipelajari dan dipraktekkan. Workshop kolaborasi STIKI dan CIAYO Corp diharapkan memberikan kemaslahatan dan dampak yang kuat bagi dunia industri kreatif di Indonesia, yang diawali dari Bali. Workshop ini dipercayai sebagai awal suatu yang besar, dan kita wajib bersyukur dan berbangga bahwa STIKI menjadi bagian dari awal sejarah yang besar ini.


Kontributor : I Made Marthana Yusa
Reporter : Edna Widya Perdani
Dokumentasi : GRADASI dan LINGKARAN FILM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here