Pegelaran Gebyar Hindu STIKI, Ajang Melestarikan Seni dan Budaya Bali

0
75

Gebyar Budaya Hindu STIKI (GBHS) ke- IV kembali dilaksanakan oleh Kesatuan Mahasiswa Hindu (KMH) STIKI Indonesia pada Sabtu(18/1) hingga Minggu(19/1) yang bertempat di kampus STMIK STIKOM Indonesia. Terdapat berbagai macam kategori lomba bertema seni dan budaya hindu dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) seperti lomba nyurat lontar, lomba pidato, lomba busana adat bali, lomba melukis, lomba kekawin, dan lomba mesatua bali. Tercatat kurang lebih 130 peserta dari kalangan pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK se-Bali ikut berpartisipasi dalam kegiatan lomba yang diselenggarakan secara gratis ini.

Lomba Busana Adat Bali

I Gusti Lanang Susila Agung selaku ketua KMH STIKI Indonesia mengatakan bahwa Kegiatan kali ini bertema “Genah Para Yowana Meyasa Kerthi Majeng Jagat lan Budaya Bali”. “Kami mengusung tema ini untuk menjadikan KMH sebagai wadah atau ajang para generasi muda bali mulai dari tingkat SD sampai dengan SMA/SMK untuk ikut serta melestarikan budaya dan kesenian bali yang sudah terkenal di kancah nasional maupun internasional. Lomba-lomba yang diadakan pun didukung penuh oleh pihak kampus STIKI, para penyuluh bahasa bali, dan masyarakat umum,” ujarnya.

Sementara itu Ni Wayan Septarini selaku ketua panitia kegiatan ini mengatakan kegiatan ini sudah dipersiapkan sejak jauh hari dan telah mengadakan evaluasi untuk peningkatan kualitas pelaksanaan lomba. “Kegiatan ini sudah kami siapkan sekitar 3 bulan yang lalu diawali dengan pembentukan panitia, pembuatan proposal, dan penyebaran informasi ke sekolah-sekolah yang ada di Bali. Adapun juri-juri yang terlibat dalam kegiatan ini adalah dari tim Penyuluh Bahasa Bali Provinsi Bali dan ada beberapa dosen dari kampus STIKI,” jelasnya.

Salah satu juri yang bernama Dwi Mahendra Putra, M.hum mengatakan bahwa GBHS IV ini sudah sangat meriah dan pesertanya cukup banyak. “Saya selaku juri sangat mengapresiasi kegiatan ini karena sudah melibatkan ratusan peserta lomba se-Bali sehingga kami dari tim juri merasa kewalahan dalam menentukan juara karena penampilan dan bakat yang dimiliki semua peserta bagus-bagus sehingga nilai akhir dari para juara pun beda tipis. Akan lebih baik jika dipisah kategori juaranya antara putra dan putri mengingat pesertanya lumayan banyak,” tuturnya. Selain itu, salah satu peserta yang bernama Desak Made Dinda Intan Prameswari mengaku senang sekali mengikuti lomba mesatua bali khususnya karena disini dia bisa melatih kepercayaan dirinya untuk berani tampil dan bercerita didepan khalayak ramai. “Awalnya saya takut untuk tampil, tetapi setelah berada didepan juri, saya jadi berani untuk berbicara dan membawakan cerita yang sudah saya pelajari selama kurang lebih satu bulan,” kata siswa kelas III SD 4 Ubung tersebut. Mereka juga berharap kedepannya agar melaksanakan kegiatan lomba yang mengusung tema Seni dan Budaya Bali serta penyebaran informasi terkait lomba lebih diperluas sehingga pesertanya akan semakin banyak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here